Permainan Tradisional
Administrator 27 Juni 2026 17:42:22 WIB
Permainan tradisional merupakan salah satu unsur penting dalam kebudayaan masyarakat Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Keberadaannya bukan hanya berfungsi sebagai wahana hiburan bagi anak-anak, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial, moral, estetika, dan simbolik yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam konteks budaya Jawa, terutama di wilayah pedesaan seperti Karangtengah yang masih memegang erat tradisi, permainan tradisional menjadi sarana pendidikan nonformal yang mengajarkan kedisiplinan, kerja sama, strategi, keberanian, hingga kecerdasan emosional.
Permainan tradisional memiliki relevansi kuat dengan dinamika sosial masyarakat. Ia melahirkan interaksi antargenerasi, memperkuat hubungan sosial, serta menjadi media internalisasi nilai budaya. Setiap permainan tradisional mengandung makna filosofis tertentu yang sejalan dengan pandangan hidup masyarakat Jawa, khususnya falsafah hamemayu hayuning bawana, yaitu upaya menjaga keharmonisan dan kesejahteraan kehidupan.
Di Kalurahan Karangtengah, permainan tradisional masih dapat ditemukan dalam berbagai kesempatan, seperti kegiatan lomba di tingkat padukuhan, perayaan hari kemerdekaan, kegiatan sekolah, dan aktivitas permainan anak-anak di lingkungan pedesaan. Berikut ini merupakan uraian lengkap mengenai jenis permainan tradisional yang dikenal masyarakat Karangtengah beserta nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
- Gobak Sodor
Gobak Sodor merupakan permainan tradisional yang dimainkan beregu serta memerlukan kerja sama, ketangkasan, dan strategi. Permainan ini, dimainkan oleh dua kelompok saling berhadapan; satu kelompok bertugas menjaga garis (sodor), sedangkan kelompok lain berusaha menerobos garis tersebut hingga mencapai garis akhir tanpa tersentuh. Lapangan dibuat berupa kotak-kotak berpetak dengan garis horizontal dan vertikal sebagai batas permainan. Permainan ini biasanya dimainkan pada kondisi malam hari di bawah cahaya terang bulan (Padang Bulan).
Secara sosial, permainan Gobak Sodor memupuk kebersamaan dan solidaritas antarpemain. Koordinasi antaranggota menjadi hal penting demi keberhasilan tim. Ketika satu anggota lengah, peluang lawan untuk menang menjadi lebih besar, sehingga permainan ini mengajarkan tanggung jawab bersama.
Secara filosofis, Gobak Sodor melambangkan perjuangan manusia melewati rintangan kehidupan. Setiap garis merepresentasikan batas atau cobaan, sementara penjaga garis melambangkan tantangan yang harus dihadapi dengan keberanian dan strategi. Permainan ini mengajarkan bahwa keberhasilan hidup bergantung pada kemampuan bekerja sama dan ketepatan memilih waktu yang tepat untuk melangkah.
- Suda Manda (Engklek)
Suda Manda atau Engklek adalah jenis permainan tradisional dengan cara melompati kotak-kotak yang digambar di tanah. Pemain harus melompat dengan satu kaki sambil mengambil gacuk (penanda batu kecil,serpihan genting) di salah satu kotak tanpa kehilangan keseimbangan. Pola kotak menggambarkan tahapan perjalanan.
Permainan ini melatih ketelitian, konsentrasi, dan keseimbangan motorik. Namun lebih dari itu, Suda Manda mengandung simbol kehidupan manusia yang penuh pilihan dan risiko. Setiap kotak melambangkan tahap kehidupan, mulai dari masa kecil, remaja, dewasa, hingga masa tua.
Filosofi yang terkandung menggambarkan bahwa manusia harus berhati-hati melangkah agar tidak “keluar jalur.” Keberhasilan dalam permainan bukan sekadar tentang kecepatan, tetapi tentang kecermatan dan konsistensi dua nilai yang juga penting dalam kehidupan.
- Benthik
Permainan Benthik adalah permaian tradisonal yang dimainkan dengan dua batang kayu: kayu Panjang (Bentong) sebagai pemukul dan kayu pendek (Janak) sebagai benda yang dipukul, umumnya kayu yang gunakan dalam permainan Benthik adalah kayu Jambu Biji (Jambu kluthuk). Permainan ini memerlukan kekuatan, ketepatan, dan kemampuan mengukur jarak. Aturan permainan ini adalah poin diberikan berdasarkan sejauh apa kayu pendek (Janak) tersebut terlempar.
Benthik mengajarkan keberanian mengambil risiko dan ketepatan dalam memanfaatkan peluang. Jika pukulan pertama gagal, pemain kehilangan kesempatan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peluang dalam hidup harus dimanfaatkan secara optimal.
Makna filosofis Benthik dapat dilihat dari representasi hubungan antara tenaga, strategi, dan hasil. Permainan ini menegaskan bahwa kekuatan saja tidak cukup; strategi dan ketepatan waktu adalah kunci keberhasilan.
- Kasti
Kasti adalah permainan tradisional yang menggunakan bola terbuat dari daun kelapa (Blarak) atau daun pisang kering (Klaras) yang dibuat menjadi bulat (bola) dan dipukul menggunakan kayu panjang (Tampel). Permainan ini mengutamakan koordinasi antara melempar, memukul, dan berlari. Pemain harus mampu membaca situasi, menentukan posisi aman, serta melindungi teman satu tim. Kasti umumnya dimainkan pada kegiatan sekolah dan perlombaan desa.
Filosofi permainan tradisional kasti menekankan pentingnya keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Individu harus tahu kapan maju dan kapan mundur. Sikap ini menggambarkan ajaran kehidupan masyarakat Jawa yang menekankan ketenangan dan perhitungan sebelum mengambil tindakan.
- Jamuran
Permainan tradisonal Jamuran dimainkan oleh sekelompok anak yang berkumpul dalam lingkaran dan bernyanyi mengikuti lagu tradisional “Jamuran.” Ketika nyanyian berhenti, pemimpin permainan memberi instruksi gerakan tertentu yang harus dilakukan para pemain.
Selain memiliki unsur seni berupa musikalitas dan gerak, Jamuran juga menekankan pentingnya kebersamaan. Lingkaran yang terbentuk merepresentasikan harmoni dalam kehidupan sosial. Masyarakat Jawa percaya bahwa lingkaran adalah bentuk kesempurnaan dan persatuan.
Filosofi permainan ini mengajarkan bahwa kehidupan adalah kebersamaan yang bergerak dalam satu ritme atau aturan. Dalam lingkaran sosial, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan keharmonisan yang ada di masyarakat.
- Nekeran (Kelereng/Gundu)
Nekeran adalah permainan kelereng yang membutuhkan ketepatan dan ketelitian. Pemain harus bisa menembakkan kelerengnya untuk mengenai sasaran yang sudah ditentukan.
Permainan ini mengajarkan kesabaran, konsentrasi, dan kecermatan dalam mengambil peluang. Filosofinya, setiap tindakan harus diarahkan pada tujuan yang jelas, dan keberhasilan tidak selalu diperoleh dengan kekuatan semata, tetapi dengan fokus dan ketepatan.
- Egrang
Egrang adalah permainan tradisional yang terbuat dari bambu panjang yang diberi penumpu kaki. Pemain membutuhkan keseimbangan tubuh dan konsentrasi untuk berjalan dengan alat ini sehingga tampak lebih tinggi dari biasanya.
Makna filosofisnya sangat kuat, menggambarkan usaha manusia untuk “meninggikan diri” melalui kerja keras. Tingginya egrang mengajarkan bahwa segala sesuatu dapat dicapai apabila seseorang memiliki keberanian, keseimbangan, dan kesabaran.
- Cublak-Cublak Suweng
Cublak-Cublak Suweng merupakan permainan tradisional yang sangat populer di Jawa, termasuk di Kalurahan Karangtengah. Permainan ini dimainkan oleh lima hingga delapan anak yang duduk melingkar sambil menyanyikan tembang “Cublak-Cublak Suweng.” Salah satu pemain tengkurap sebagai pemantu atau pencari, sementara pemain lain mengoper suweng atau gacuk (biasanya batu kecil atau benda kecil lainnya) di balik tangan. Ketika lagu berhenti, pencari harus menentukan di tangan siapa benda tersebut disembunyikan.
Secara sosial, permainan ini mempererat kebersamaan dan melatih interaksi interpersonal. Anak-anak belajar membaca gerak tubuh, mendeteksi ekspresi wajah, dan memahami tanda nonverbal dari teman-temannya. Dalam konteks perkembangan anak, permainan ini memperkuat kemampuan observasi, intuisi, dan kepekaan sosial.
Secara filosofis, Cublak-Cublak Suweng mengandung pesan mendalam. Lagu yang dinyanyikan memiliki unsur simbolik atau arti tentang harta dan kebijaksanaan. “Suweng” melambangkan sesuatu yang berharga, sementara proses penyembunyian menunjukkan bahwa nilai kehidupan tidak selalu tampak secara kasat mata. Dalam falsafah Jawa, permainan ini mengajarkan eling lan waspada, yakni pentingnya kewaspadaan dan ketajaman batin dalam memahami sesuatu yang tersembunyi. Penekanan pada intuisi mencerminkan pandangan masyarakat Jawa bahwa manusia tidak hanya mengandalkan penglihatan, tetapi juga perasaan batin dalam menilai sesuatu.
- Tulupan
Tulupan adalah permainan tradisional yang menggunakan alat sederhana berupa selongsong kecil dari bambu atau pipa, yang digunakan untuk menembakkan biji-bijian, kertas kecil, atau peluru kecil buatan tangan. Permainan ini banyak dimainkan oleh anak laki-laki dan sering dijadikan adu ketepatan sasaran.
Permainan ini membutuhkan kreativitas dalam membuat alat, keterampilan motorik halus, serta kemampuan konsentrasi yang tinggi. Anak harus mampu menentukan kekuatan tiupan sekaligus arah tembakan agar mencapai sasaran dengan tepat. Aktivitas ini juga mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, karena pemain harus mempertimbangkan faktor angin, jarak, dan jenis peluru yang digunakan.
Secara filosofis, Tulupan mengajarkan bahwa sesuatu yang kecil dapat memiliki kekuatan besar apabila diarahkan dengan tepat. Prinsip ini sejalan dengan nilai budaya Jawa yang mengutamakan kesederhanaan dan ketelitian. Dari sudut pandang pedagogis, permainan ini mengandung makna bahwa kecermatan dan fokus lebih berperan dalam mencapai tujuan dibandingkan kekuatan semata.
- Bekelan
Bekelan merupakan permainan tradisional yang menggunakan biji-bijian ( Kecik) atau Batu kecil dan bola kecil (Bola Bekel) . Permainan ini dilakukan dengan teknik melempar bola ke udara hingga jatuh dan memantul dilantai sambil mengambil biji-bekel di tanah sesuai tahap tertentu. Ada banyak variasi teknik permainan, yang biasanya berkembang menurut tradisi lokal.
Permainan ini melatih ketangkasan jari, refleks, konsentrasi, serta koordinasi mata dan tangan. Setiap tahap memiliki tingkat kesulitan berbeda, sehingga anak harus menguasai teknik dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.
Makna filosofis dalam permainan bekelan terletak pada nilai ketekunan dan kecermatan. Pengambilan biji harus dilakukan satu per satu secara sistematis, menggambarkan bahwa kehidupan membutuhkan proses dan langkah bertahap. Masyarakat Jawa melihat permainan ini sebagai simbol kedisiplinan dan ketelitian, serta kemampuan mengatur ritme aturan hidup sesuai situasi. Di samping itu, permainan ini mengandung pesan tentang sinergi antara waktu dan kesempatan dua hal yang harus dimanfaatkan dengan bijaksana.
- Dakon (Congklak)
Dakon atau Congklak adalah permainan tradisional tentang strategi menggunakan papan berlubang dan biji kecil (Jagung, Klungsu, Kacang, Cipir, dll) atau batu kecil. Dua pemain saling berhadapan dan bergantian memindahkan biji atau batu ke setiap lubang secara melingkar. Permainan ini membutuhkan kemampuan berhitung, strategi, dan prediksi.
Dakon bukan hanya permainan, tetapi juga cerminan tradisi pertanian(Agraris) masyarakat Jawa. Biji yang dipindahkan melambangkan benih dan panen, sedangkan papan lubang merepresentasikan lumbung atau tempat penyimpanan hasil bumi. Melalui permainan ini, anak-anak belajar konsep distribusi, perhitungan, dan perencanaan sumber daya.
Secara filosofis, Dakon menekankan bahwa sumber daya alam dalam kehidupan harus dikelola dengan bijaksana. Perencanaan jangka panjang lebih penting daripada kemenangan cepat. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam pandangan hidup masyarakat Jawa yang menjunjung prinsip kehati-hatian (tata titi) dan keseimbangan (rukun).
- Bas-Basan
Bas-Basan adalah merupakan permainan tradisional strategis yang berkembang di masyarakat Jawa. Permainan ini menggunakan papan sederhana yang digambar di atas tanah, kayu, atau permukaan datar lainnya, berbentuk petak-petak simetris. Jumlah petaknya bervariasi sesuai kebiasaan setempat, namun bentuk paling umum terdiri atas kotak berbaris yang memungkinkan bidak bergerak secara diagonal. Alat permainannya berupa batu kecil, biji sawo, pecahan genting, atau potongan kayu yang dibedakan menjadi dua kelompok warna atau bentuk untuk menandai kepemilikan masing-masing pemain.
Dari segi sosial, Bas-Basan menumbuhkan sportivitas, kecepatan respons, serta kemampuan mengikuti aturan permainan. Anak-anak belajar menghargai giliran, mengendalikan diri, dan mengakui kekalahan dengan lapang dada.
Secara filosofis, permainan ini menggambarkan mengajarkan bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi. Pemain harus memikirkan beberapa langkah ke depan, sebagaimana dalam kehidupan seseorang dituntut mempertimbangkan dampak dari keputusan yang diambil.
- Ganepo
Ganepo merupakan permainan tradisional yang dimainkan secara berkelompok minimal 2 orang, namun idealnya lebih banyak untuk membuat permainan lebih menarik. Bahan permainan relatif sederhana dan bersifat lokal/mudah didapat: pecahan genteng, batu bata, atau keping sejenis biasanya disusun sebagai tumpukan/piramida (kadang disebut “menara”) sebagai sasaran.
Nilai sosialnya berkaitan dengan kesiapsiagaan dan kemampuan membaca situasi. Anak-anak belajar bahwa setiap peluang dan ancaman datang dalam hitungan detik, sehingga perlu respons cepat tanpa panik.
Filosofi di balik Ganepo mengajarkan nilai-nilai seperti kecermatan, tanggung jawab, sportivitas, dan kebersamaan nilai-nilai yang relevan dalam kehidupan bermasyarakat dan pendidikan karakter.
- Koko-koko
Koko Koko adalah permainan tradisional yang berasal dari Karangtengah. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok. Kelompok pertama berperan sebagai induk yang melindungi 'anak dan cucu' (pemain lain yang berbaris di belakangnya sambil berpegangan). Kelompok kedua bertindak sebagai pemburu atau pemangsa yang berada di sisi berlawanan. Permainan dimulai dengan percakapan antara pemburu dan induk, di mana pemburu awalnya meminta air. Namun, setelah melihat barisan panjang anak dan cucu di belakang induk, pemburu mengubah permintaannya menjadi meminta salah satu anak atau cucu tersebut. Sang induk menolak permintaan ini, yang kemudian memicu konflik antara kedua belah pihak. Dalam situasi ini, sang induk berpesan dengan tegas kepada anak dan cucunya agar tetap berlindung dan tidak melepaskan pegangan dari barisan di belakangnya. Induk juga mengingatkan bahwa barang siapa yang sampai terlepas dari barisan, ia akan beralih peran menjadi pemburu.
Permainan tradisional "Koko Koko" sarat akan pelajaran hidup. Secara sosial, permainan ini menanamkan nilai kerja sama dan solidaritas (kohesi sosial) melalui barisan anak yang harus berpegangan erat demi keselamatan bersama, serta mengajarkan tanggung jawab dan kasih sayang yang dicontohkan oleh peran induk sebagai pelindung utama. Selain itu, permainan ini menekankan ketaatan pada petunjuk pemimpin dan ketegasan dalam menyelesaikan konflik untuk mempertahankan kelompok.
Secara filosofis, "Koko Koko" mengandung pesan tentang rantai kehidupan dan keberlanjutan keturunan, di mana setiap generasi harus dijaga agar tidak tercerai-berai. Pesan terkuatnya adalah tentang jati diri; anggota yang terlepas dari barisan induk berisiko "berubah peran" menjadi ancaman (pemburu), yang mengajarkan pentingnya berpegang teguh pada komunitas dan nilai. Induk juga melambangkan konsep pemimpin ideal (Pamong) yang mendahulukan keselamatan anggota kelompoknya, sementara alur cerita keseluruhan mencerminkan ujian dan cobaan hidup yang dapat datang dalam bentuk tak terduga.
Pada intinya, "Koko Koko" berfungsi sebagai media sosialisasi untuk menanamkan kebersamaan, kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan persatuan sejak dini.
- Thuk Uwuk
Thuk Uwuk merupakan permainan tradisional yang termasuk kategori permainan fisik melibatkan kerja sama, strategi, dan kelincahan. Selain menjadi sarana hiburan, permainan ini juga berfungsi sebagai alat sosialisasi anak-anak, tempat belajar nilai-nilai sosial, dan media pembentukan karakter.
Filosofi permainan Thuk Uwuk mencakup gotong royong, kejujuran, strategi, ketekunan, dan kreativitas. Thuk Uwuk layak dimasukkan sebagai salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda.
- Dingklik Oglak Aglik
Dingklik Oglak-aglik merupakan permainan tradisional yang memerlukan partisipasi paling sedikit tiga orang pemain. Permainan ini dilakukan dengan cara para pemain saling membelakangi dan mengaitkan salah satu kaki mereka satu sama lain hingga posisinya terkunci. Selanjutnya, para pemain akan melompat memutar dengan menggunakan satu kaki sambil menyanyikan lagu dingklik oglak-aglik. Dalam permainan ini, tidak ada konsekuensi menang atau kalah; tujuan utamanya adalah menjaga kekompakan dan keselarasan gerak agar permainan dapat berlangsung dalam durasi yang lebih lama.
Nilai sosial permainan dingklik oglak-aglik ini sangat jelas, berpusat pada kolaborasi dan interaksi antar pemain: kekompakan dan kerja sama (sinergi). Ini adalah nilai utama permainan. Karena kaki para pemain saling terkait dan mereka harus melompat dengan satu kaki, satu kesalahan atau ritme yang berbeda dari satu pemain akan merobohkan seluruh kelompok. Permainan ini secara langsung melatih para pemain untuk bergerak dan berpikir sebagai satu kesatuan, bukan sebagai individu.
Permainan dingklik oglak-aglik melatih keselarasan dan kepekaan rasa (empati gerak) antar pemain. Setiap pemain dituntut untuk memiliki kepekaan tinggi terhadap ritme, tenaga, dan gerakan teman di sekelilingnya, sehingga irama lompatan mereka dapat selaras satu sama lain. Secara tidak langsung, hal ini mengajarkan empati fisik, yaitu kemampuan untuk memahami dan merasakan kondisi serta ritme teman demi mencapai tujuan kolektif. Koordinasi sering kali dilakukan melalui komunikasi nonverbal, seperti tarikan kaki atau irama nyanyian, yang mengasah kemampuan pemain dalam memahami isyarat dan kebutuhan teman tanpa harus berbicara langsung. Filosofi utama permainan ini bukan terletak pada kalah atau menang, melainkan pada memperpanjang durasi kebersamaan dan kolaborasi, menunjukkan bahwa menikmati proses dan menjaga persatuan jauh lebih bernilai daripada hasil akhir yang kompetitif.
Permainan dingklik oglak-aglik merefleksikan filosofi mendalam tentang kehidupan sosial dan bermasyarakat. Makna utamanya terletak pada filosofi keterikatan, di mana kaki yang saling terkait melambangkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri dan harus saling bergantung dalam menghadapi dinamika tantangan hidup (melompat) secara bersama-sama. Permainan ini juga mengajarkan filosofi keseimbangan Hidup yang sangat rapuh. Jatuhnya pemain atau robohnya tongkat melambangkan keruntuhan tatanan sosial atau kerusakan lingkungan, menegaskan bahwa keseimbangan dan harmoni harus dijaga dengan hati-hati; tindakan ceroboh satu individu dapat merusak keseluruhan komunitas. Lebih lanjut, dingklik oglak-aglik menyiratkan filosofi persatuan dalam keragaman (Bhinneka Tunggal Ika), di mana perbedaan postur dan ritme pemain harus diselaraskan untuk mencapai satu tujuan, yaitu menjaga permainan tetap berdiri. Secara keseluruhan, permainan ini mengajarkan bahwa keberlangsungan hidup sosial dan kemajuan kolektif sangat bergantung pada kesadaran kolektif setiap individu untuk menanggalkan ego dan menyelaraskan diri demi menjaga ikatan dan keseimbangan bersama.
- Gatheng
Gatheng adalah permainan melempar dan menangkap batu kecil atau pecahan keramik. Pemain harus mengikuti tahap yang semakin sulit, mulai dari mengambil satu batu hingga mengambil semuanya sekaligus.
Permainan ini melatih ketangkasan, refleks, dan koordinasi. Anak-anak juga belajar mengikuti aturan tahap demi tahap, sehingga terbangun kedisiplinan dan kemampuan menguasai keterampilan secara bertahap.
Secara filosofis, Gatheng mengajarkan bahwa hal kecil tidak boleh diremehkan. Dalam kehidupan, tugas kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa hasil besar. Nilai ini selaras dengan pandangan masyarakat Jawa tentang pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam meraih tujuan.
- Dokdokwil
Dokdokwil merupakan permainan tradisional yang dimainkan minimal oleh dua orang pemain. Permainan ini dilakukan dengan cara membuat gundukan tanah menyerupai gunung. Ketinggian gundukan dapat disesuaikan dengan durasi permainan yang diinginkan, umumnya mencapai sekitar 10 cm. Pada puncak gundukan, ditancapkan tongkat kecil atau ranting kayu yang berfungsi sebagai penanda akhir permainan jika tongkat tersebut roboh. Pemain kemudian mengelilingi gundukan tanah sambil melantunkan lagu yang diulang-ulang, yaitu "dokdokwil dokdokwil sekedok gari secuil...", sembari mengambil tanah dari gundukan sedikit demi sedikit. Pemain yang pertama kali merobohkan tongkat tersebut dinyatakan sebagai pihak yang kalah. Sebaliknya, pemain yang berhasil mengumpulkan tanah paling banyak dinobatkan sebagai pemenang dan berhak menentukan hukuman bagi yang kalah.
Nilai sosial permainan ini terletak pada kemampuan mengikuti ritme bersama. Anak-anak belajar menyesuaikan diri dengan perubahan, me serta menjaga kekompakan.
Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam permainan ini berfokus pada interaksi kelompok, pembentukan karakter, dan penanaman kesadaran kolektif berupa : kebersamaan, kekompakan, ketaatan terhadap aturan (disiplin), sportivitas, tanggung jawab, kehati-hatian, keadilan sosial (hukuman & penghargaan)
Makna filosofis dari permainan ini sering dihubungkan dengan ajaran hidup, khususnya tentang kekayaan, keberadaan, dan kehati-hatian. Gundukan tanah melambangkan kekayaan/kemakmuran atau sumber daya alam yang ada di bumi. Tongkat kayu melambangkan pusat, keseimbangan hidup, atau bahkan prinsip moral/agama yang harus dijaga tegak. Jatuhnya tongkat adalah simbol runtuhnya tatanan atau hilangnya keseimbangan.
Filosofi mengais sedikit demi sedikit melambangkan cara manusia memanfaatkan sumber daya alam atau mencari rezeki dalam hidup. Sedikit demi sedikit mengajarkan prinsip kesabaran, ketekunan, dan tidak serakah. Manusia tidak boleh mengambil sumber daya alam secara berlebihan (sekaligus), karena akan merusak keseimbangan (merobohkan tongkat). Lirik lagu ("sekedok gari secuil"): lirik ini mungkin menyiratkan bahwa setiap "cangkulan" atau setiap usaha harus menghasilkan sesuatu, namun harus disadari bahwa yang tersisa ("gari secuil" - tinggal sedikit) harus tetap dijaga agar tidak habis.
Filosofi malah dan menang. Pemain yang kalah (merobohkan tongkat): secara filosofis, dia adalah orang yang gagal menjaga keseimbangan atau bertindak terlalu serakah/terburu-buru, sehingga merusak sumber daya/tatanan yang ada. Pemain yang menang (tanah paling banyak): Ini melambangkan seseorang yang berhasil mengumpulkan rezeki (tanah) tanpa merusak tatanan/keseimbangan (tidak merobohkan tongkat). Pemenang diakui karena kecermatannya.
Secara keseluruhan, dokdokwil mengajarkan sebuah kearifan bahwa dalam usaha meraih kekayaan atau rezeki (mengumpulkan tanah), manusia harus senantiasa menjaga keseimbangan alam dan tatanan sosial (tongkat). Keserakahan dan ketidakhati-hatian hanya akan membawa keruntuhan.
Dokumen Lampiran : Permainan Tradisional
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |










